rodrygorodrygo

Portal Olahraga Terupdate – Pada bursa transfer musim panas lalu, masa depan Rodrygo di Real Madrid sempat berada di titik paling genting. Winger asal Brasil tersebut tak lagi masuk prioritas utama tim dan lebih sering memulai laga dari bangku cadangan.

Minat dari sejumlah klub papan atas Eropa pun bermunculan, seiring menyempitnya ruang bermain Rodrygo di Santiago Bernabéu. Namun di tengah situasi sulit itu, ia memilih bertahan dan memperjuangkan posisinya.

Keputusan tersebut perlahan membuahkan hasil. Setelah melewati periode penuh tekanan, Rodrygo kembali menemukan ritme terbaiknya. Kepercayaan yang kini diberikan Xabi Alonso pun dibayar dengan performa konsisten dan kontribusi nyata di lapangan.

Dari Ekspektasi Tinggi hingga Terpinggirkan

Sejak direkrut Real Madrid dari Santos pada 2019, Rodrygo selalu dilekatkan pada label talenta besar. Ia sempat menjadi pahlawan lewat gol-gol krusial di Liga Champions dan turut merasakan gelar La Liga. Namun, statusnya sebagai pemain inti tak pernah benar-benar aman.

Pada musim 2023/2024, meski cukup sering dimainkan, perannya tetap tidak solid. Rodrygo hanya menjadi starter dalam 28 laga liga dan jarang tampil penuh selama 90 menit. Catatan 15 kontribusi gol dan assist di La Liga pun belum cukup untuk mengamankan posisinya.

Situasi semakin memburuk di penghujung musim. Setelah jeda internasional Maret, Rodrygo hanya dua kali masuk starting XI dari sepuluh laga terakhir. Sepanjang Mei, ia bahkan tak mendapat menit bermain, termasuk pada laga penentuan gelar melawan Barcelona.

Carlo Ancelotti kala itu menyebut absennya Rodrygo sebagai keputusan teknis dan menegaskan sang pemain tetap penting. Namun, fakta di lapangan menunjukkan sebaliknya. Tak lama kemudian, kursi pelatih beralih ke Xabi Alonso, tetapi nasibnya belum juga berubah.

Kebingungan Peran di Bawah Kendali Xabi Alonso

Masalah utama Rodrygo sejatinya bukan kualitas, melainkan penempatan posisi. Jude Bellingham bahkan pernah menyebut sebagai pemain paling berbakat secara teknis di skuad Real Madrid. Sayangnya, bakat tersebut sulit dimaksimalkan dalam sistem permainan yang menuntut disiplin posisi tinggi.

Rodrygo sendiri mengakui bahwa ia lebih nyaman bermain sebagai second striker atau gelandang serang, bukan winger murni. Di era Ancelotti, ia kerap dimainkan melebar dan hanya sesekali tampil di tengah, biasanya sebagai pengganti Karim Benzema.

Memasuki era Xabi Alonso, tuntutan taktik justru semakin spesifik. Winger kanan di haruskan menjaga lebar atau menusuk ke dalam dengan pola yang jelas. Gaya Rodrygo yang gemar bergerak di half-space kanan dan masuk ke area tengah di nilai kurang sesuai.

Akibatnya, di awal musim Rodrygo lebih sering duduk di bangku cadangan. Alonso memilih opsi lain seperti Brahim Díaz atau Franco Mastantuono, sementara Kylian Mbappé di beri kebebasan penuh di lini depan.

Momentum Kebangkitan di Bulan Desember

Perubahan mulai terlihat pada Desember. Cedera yang menimpa Kylian Mbappé jelang laga Liga Champions melawan Manchester City membuka peluang bagi Rodrygo. Xabi Alonso kemudian menurunkannya di sisi kanan dalam skema 4-4-2.

Meski Real Madrid kalah 1-2, Rodrygo tampil menonjol dan mencetak gol. Ia bahkan di sebut sebagai pemain terbaik Madrid pada laga tersebut. Pelukan Rodrygo dengan Alonso usai gol itu menjadi simbol awal tumbuhnya kepercayaan.

“Saya memeluk Xabi setelah gol itu sebagai tanda persatuan tim. Saya tahu momen itu penting,” ujar Rodrygo.

Empat hari kemudian, Rodrygo kembali mencetak gol penentu kemenangan atas Alavés. Walau sempat kembali ke bangku cadangan di Copa del Rey, ia di percaya menjadi starter saat melawan Sevilla dan terlibat langsung dalam dua gol kemenangan.

Kontribusi Nyata dan Kepercayaan Baru

Puncak kebangkitan Rodrygo terjadi saat Real Madrid membantai Real Betis 5-1. Dalam laga tersebut, ia menyumbang dua assist pada pertandingan yang di sebut sebagai performa terbaik Madrid di era Xabi Alonso.

Secara keseluruhan, dalam empat laga terakhir saat di percaya menjadi starter, Rodrygo mencatat dua gol, tiga assist, dan memenangkan satu penalti. Catatan ini sangat kontras di banding periode sebelumnya, ketika ia nyaris tak mendapat kesempatan bermain.

Menariknya, lonjakan kontribusi ini hadir saat belum sepenuhnya berada di performa puncak. Kritik lama soal inkonsistensi masih relevan, mengingat ia kerap menjadi pemain momen ketimbang pengendali permainan.

Meski demikian, secara taktis perannya kini jauh lebih jelas. Dari yang sebelumnya sering menggantikan Vinícius Junior di sisi kiri, Rodrygo kembali menemukan ruang di sektor kanan—posisi yang memberinya dampak lebih besar, baik dalam permainan terbuka maupun situasi bola mati.

Sumber: Bola.net